JAYAPURA – Sebanyak 95 judul puisi dari 41 penulis di Papua saling menunjukkan kreatifitasnya lewat kemasan  buku antologi puisi Satupena Provinsi Papua. Beragam tema diangkat di sini, mulai dari keindahan laut, danau, hutan, kesenjangan sosial dan kemanusiaan. Uniknya, pesertanya adalah dari berbagai kalangan, Mulai dari  Dosen, Dokter, Guru, TNI, POLRI, Jurnalis, Pengusaha, Pelajar, Penyanyi, Ibu rumah tangga hingga Sutradara film.

Cukup banyak penulis-penulis handal daerah Papua yang turut menggoreskan karya puisinya di sini. Seperti Igir Alqatiri, Ina Samosir Lefaan, John Managsang Wally, Gusty Masan Raya, Wimtoraaf dan lain-lain. Bahkan penyanyi Nasional asal Papua, sekelas Lala Suwages pun menyertakan 4 judul puisi karyanya di buku antologi puisi Satupena Papua ini.

” Ini luar biasa. Patut di apresiasi,” ujar FX. Purnomo, salah seorang penulis puisi antologi puisi Satupena yang juga koordinator antar pulau Satupena untuk wilayah Maluku – Papua.

“ Tujuan utama Satupena Papua ini, tidak lain dan tidak bukan adalah turut menanamkan nilai-nilai yang positif terhadap usaha-usaha pembinaan, pengembangan dan peninggakan daya kreatifitas, bakat, minat serta ketrampilan di bidang menulis, baik fiksi maupun non fiksi, juga bidang musik dan film. Baik itu pemula maupun yang profesional, menuju industri” tambah Denny Imbiri, selaku ketua pengurus harian Satupena Papua.

” Dunia literasi di Papua harus terus berkembang, apalagi saat ini kita berada dalam era digital. Sangat mudah untuk menciptakan karya-karya tanpa batas, seperti puisi untuk diangkat ke dunia industri. Kalau selama ini industri film misalnya, mengangkat cerita-cerita dari novel, maka puisi menjadi alternatif lain untuk di filmkan. Saat inipun akan segera diproduksi sebanyak 35 judul film yang semuanya diangkat dari puisi,  dari 34 provinsi, karya penulis-penulis puisi daerah. Dan Seorang Denny JA penggagasnya, ” ujar FX Purnomo lagi.

Seperti diketahui Denny JA adalah penggagas puisi esai, yang dicanangkan untuk menerima Nobel Sastra 2022. Dan tengah menjadi perbincangan dikalangan pegiat sastra Indonesia.

Nobel Sastra adalah penghargaan yang sangat bergengsi dan sejauh ini belum ada sastrawan dari Indonesia yang berhasil meraihnya.

F.X yang juga membawahi bidang industri di satupena pusat bersama sutradara kondang Garin Nugroho ini mengatakan bahwa saatnya kebangkitan literasi Papua untuk dunia, bukan intuk Indonesia saja. Lewat satupena yang mempunyai segudang program-program unggulan.

Program unggulan Satupena Provinsi Papua yang baru di deklarasikan beberapa bulan yang lalu ini memang patut mendapat dukungan dari kalangan stikholder terkait. Dan tentunya diharapkan Satupena Papua nantinya dapat berkolaborasi dengan komunitas-komunitas literasi yang ada. Untuk lebih menumbuh kembangkan dunia penulisan, khususnya puisi.

“ Mari kita turut bangun Papua dengan dunia seni ” imbuh FX Purnomo.