Beberapa minggu yang lalu, saya ke Papua. Baru pertama kali saya berkunjung ke Papua, wilayah timur dari Indonesia. Perjalan panjang Yogyakarta-Jakarta-Sentani dan Sentani-Makasar-Yogyakarta.

Wilayah Indonesia terbentang luas di sekitar Katulisriwa dengan tiga zona waktu: Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WIT), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Mana ada negara yang mempunya tiga zona waktu? Hanya Indonesia.

Khebinnekaan Indonesia adalah rahmah dari Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan kekuatan luar biasa bagi bangsa Indonesia yang terus bergerak maju di tapak sejarah bangsanya sendiri.

Saya menyaksikan sendiri hasil pembangunan Pemerintahan Presiden Jokowi di tanah Papua. Yang saya tangkap pertama kali adalah, Presiden Jokowi sangat serius membangun Papua. Ada hal-hal yang harus terus dikaji di Papua, dari hulu hingga hilir, agar kebutuhan dasar warga Papua bisa terpenuhi dengan harga yang murah dan mudah didapat.

Perjalan darat dari Bandara Sentani ke ibukota Jayapura lewat darat bersama rekan-rekan Polri, saya melihat Papua mirip sekali dengan wilayah Stavanger di Norwegia dan Saint-Etienne di Perancis. Saya 18 tahun hidup di Eropa: Aachen (Jerman), Leoben (Austria), Dobruska (Ceko), Gothenburg (Swedia) dan Saint-Etienne (Perancis), dari saya masih usia belia. Saya sudah selesai dengan urusan SARA. Saya melihat Papua dalam perspektif kepentingan Nasional.

Cara pandang saya dalam melihat dan memahami Papua sangat mendasar yaitu kita pernah bernasib sama selama ratusan tahun di Era Kolonialisme Belanda. Cukup bagi saya untuk berani dan tegas mengatakan kita satu bangsa, satu bahasa dan satu negara. Isu-isu SARA yang ada adalah hal yang sama sekali tidak berguna bagi Kepentingan Nasional. Kebhinnekaan Indonesia adalah rahmah dari Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Nusantara.

Saya juga melihat sendiri kinerja dan performa TNI dan Polri di tanah Papua. Pendekatan persuasif yang humanis adalah cara paling efektif dan efisien untuk menyelesaikan dan menuntaskan segala permasalahan di Papua.

Di jaman sistem Presidensiil rasa parlementer saat ini, TNI dan Polri adalah lem perekat kebhinnekaan Indonesia, dan sekaligus wujud nyata kehadiran Negara di seluruh wilayah NKRI.

Saya katakan pada saudara-saudara saya di Papua, biarlah rakyat Papua bahagia dan sejahtera, maju, dengan budayanya sendiri, dalam untaian Budaya Nasional.

Saran saya pada Pemerintah Pusat, bangun secara serius pengembangan SDM rakyat Papua secara Gotong Royong di seluruh wilayah NKRI dalam perspektif intelektualitas dan nilai-nilai kebangsaan. Saya siap membantu Pemerintah Pusat mendisainkan sistem pendidikan bagi rakyat Papua.

Papua aku sangat dan selalu merindukanmu. Terimakasih.

Yogyakarta, 2022-02-10
BP. Widyakanigara

Ir. KPH. Bagas Pujilaksono Widyakinigara, M. Sc., Lic. Eng., Ph.D.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Seniman/Budayawan Yogyakarta