SENTANINEWS.ID – Gubernur Papua, Lukas Enembe berharap orang Papua harus bersatu dan sadar bahwa ada tujuan tertentu di negerinya

Gubernur Lukas Enembe menyampaikan hal itu disela-sela ibadah dan doa ratapan Papua yang berlangsung di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Kamis (8/12) sore.

Dia mengajak warga sadar bahwa ada tujuan tertentu di atas negerinya, tapi juga harus bersatu, tidak boleh beda-bedakan.

“Dalam doa dan ratapan ini, kita berdoa dan bertobat. Masa depan Papua berubah itu harus bertobat,” katanya.

Menrutnya, ada keinginan Tuhan yang mulia di atas tanah ini, keinginan itu harus dari orang Papua, harus merenungkan apa yang Tuhan lakukan.

“Tapi juga apa yang harus kita lakukan di negeri ini. Jika salah jalan, Tuhan akan tutup jalan, makanya kita jaga negeri ini,”ujarnya.

Gubernur Lukas mengajak warganya bersyukur atas pemberian Tuhan, tanah ini, masa depan anak-anak Papua, masa depan negeri ini.

“Jika kita merawat tanah ini, maka Papua akan diberkati Tuhan,”katanya.

Setelah Gubernur Lukas Enembe menyampaikan kesaksian dan harapannya kepada orang Papua, dilanjutkan dengan penyampaian Firman Tuhan.

Pembacaan Alkitab sekaligus khotbah dalam Ibadah dan doa ratapan Papua disampaikan oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, pendeta Hendrikus Mofu.

Firman Tuhan yang disampaikan terambil dalam injil Yohanes 10 : 9 dan 10. Mengawali khotbahnya, pendeta Hendrikus mengatakan peristiwa 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam Teluk Doreri, Manokwari tiba kedua rasul yakni Karel Ottow dan Johan  Geisler.

Lanjut dia, ketika Ottow dan Geisler tiba di Mansinam dengan sulung mereka “dengan nama Tuhan kami menginjak Tanah ini.”

Sejak 1855, tanah dan orang Papua yang mendiaminya telah di baptis dan dibawa masuk kedalam kerjaan Allah.

Pernah seorang serdigu mula-mula mengatakan siapa menyebut Papua dia menyebut injil.

Siapa menyebut injil di atas tanah Papua maka harus menyatakan perlawanan terhadap kuasa kegelapan yang ada di atas tanah Papua.

“Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa tanah Papua adalah tanah yang diberkati Tuhan,”ujarnya.

Ibadah dan doa ratapan Papua diawali dengan tarian-tarian dan beberapa kelompok musik. Ada juga jalan salib yang diikuti oleh warga dari berbagai denomasi gereja.

Jalan salib dipimpin oleh pastor Jhon Bunai. Jalan salib dilakukan dengan tujuan mengenang kesengsaraan Tuhan Yesus sampai mati di kayu salib guna menebus dosa-dosa manusia.

Momentum akbar itu dihadiri oleh ribuan warga dari denominasi gereja. Mereka yang hadir dari Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom.

Suasana Ibadah dan Doa Ratapan Papua di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan

Ibadah dan doa ratapan Papua berlangsung khidmat hingga selesai dengan dijaga ketat oleh aparat  gabungan TNI/Polri. Mekanisme ibadahnya dalam bentuk Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) mini.(Redaksi)